
Jayapura – Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) terhadap korban ledakan yang terjadi di Kompleks Perikanan Kabupaten Biak Numfor pada 31 Mei 2026 resmi ditutup pada Senin (8/6/2026) setelah berlangsung selama sembilan hari.
Meski operasi pencarian telah berakhir, proses penyidikan dan identifikasi korban masih terus dilakukan oleh tim gabungan guna mengungkap secara menyeluruh penyebab peristiwa tersebut.
Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, S.H., S.I.K., M.H., mengatakan bahwa hingga saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyidikan secara intensif untuk mengungkap penyebab pasti ledakan.
"Sampai saat ini kami masih melakukan olah tempat kejadian perkara secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk mengumpulkan seluruh petunjuk yang mengarah pada penyebab terjadinya ledakan. Kami juga masih menunggu hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik Polri terhadap sejumlah sampel yang telah dikirim untuk diteliti lebih lanjut," ujar Kapolres.
Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), Tim Inafis Polres Biak Numfor bersama Laboratorium Forensik Polri telah melakukan penyisiran dan pengumpulan sejumlah barang bukti dari lokasi ledakan.
Barang bukti yang diamankan antara lain serpihan logam, fragmen material yang diduga berasal dari sumber ledakan, serta sampel tanah dan material di sekitar titik ledakan untuk kepentingan pemeriksaan laboratorium. Selain itu, penyidik juga melakukan pemetaan lokasi kejadian, dokumentasi forensik, serta analisis pola ledakan guna mengetahui titik pusat ledakan dan rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum insiden.
Kapolres menjelaskan, selain olah TKP, penyidik juga terus melakukan pemeriksaan terhadap para saksi. Hingga saat ini sebanyak 28 orang saksi telah dimintai keterangan yang terdiri dari warga sekitar, pekerja di kawasan Kompleks Perikanan, korban selamat, serta pihak-pihak yang mengetahui kondisi lokasi sebelum kejadian. Keterangan para saksi masih terus didalami dan dicocokkan dengan hasil pemeriksaan laboratorium forensik.
Terkait data korban, tercatat sebanyak enam orang meninggal dunia, sementara tiga korban lainnya masih dalam proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Tim DVI terus melakukan pencocokan data antemortem dan postmortem melalui metode ilmiah yang meliputi pemeriksaan sidik jari, data medis, properti korban, hingga uji DNA. Dari total korban yang ditemukan, enam korban telah berhasil teridentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga, sedangkan tiga korban lainnya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium guna memastikan identitas korban secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Terkait data korban, tercatat enam orang meninggal dunia, sementara tiga korban lainnya masih dalam proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Proses identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan ilmiah yang saat ini masih berlangsung di laboratorium forensik.
"Kami belum dapat menyimpulkan sumber pasti ledakan sebelum seluruh hasil pemeriksaan laboratorium dan identifikasi korban diterima. Perkembangan lebih lanjut akan kami sampaikan kepada masyarakat setelah seluruh hasil tersebut terkumpul dan dianalisis," tambahnya.
Sementara itu, Kasie Ops dan Siaga Basarnas Biak, Andarias Alik, S.E., menyampaikan bahwa keputusan penghentian operasi pencarian diambil setelah tim tidak lagi menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun temuan baru di lokasi kejadian.
"Selama sembilan hari pelaksanaan operasi, Tim SAR Gabungan telah melaksanakan pencarian secara maksimal. Pada hari kesembilan tidak ditemukan lagi serpihan maupun indikasi keberadaan korban. Berdasarkan hasil evaluasi bersama seluruh unsur yang terlibat serta keluarga korban, Operasi SAR Gabungan resmi ditutup pada 8 Juni 2026 pukul 18.20 WIT," jelasnya.
Basarnas mencatat bahwa selama operasi berlangsung, tim gabungan berhasil menemukan enam korban meninggal dunia. Adapun tiga korban lainnya masih menunggu hasil identifikasi resmi dari Tim DVI Polri.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor memastikan akan terus memberikan perhatian dan pendampingan kepada keluarga korban maupun warga yang terdampak langsung akibat peristiwa tersebut.
Sementara itu, Posko Kesehatan yang didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Biak Numfor melalui Dinas Kesehatan di Hotel Mapia hingga saat ini masih beroperasi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada keluarga korban dan warga terdampak ledakan. Layanan tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan yang terus dilakukan pemerintah daerah pascakejadian.
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor melalui instansi terkait juga telah melakukan inventarisasi terhadap rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan akibat ledakan. Hasil pendataan tersebut akan menjadi dasar pelaksanaan perbaikan dan renovasi bangunan yang terdampak.
Pemerintah daerah menegaskan akan terus berkoordinasi dengan Polres Biak Numfor, TNI, Basarnas, dan instansi terkait lainnya dalam rangka pemulihan pascakejadian serta mengantisipasi apabila ditemukan kembali serpihan atau material yang berpotensi membahayakan masyarakat.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, S.I.K., M.K.P., mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mempercayakan proses penyelidikan kepada aparat yang berwenang.
"Polda Papua bersama seluruh unsur terkait berkomitmen mengungkap secara tuntas penyebab ledakan ini melalui proses penyidikan yang profesional, transparan, dan berbasis pembuktian ilmiah. Kami juga mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi serta segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan benda mencurigakan atau material yang diduga merupakan sisa perang agar dapat ditangani sesuai prosedur dan tidak membahayakan keselamatan warga," tegas Kabid Humas.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan segera melaporkan kepada aparat keamanan apabila menemukan benda mencurigakan atau material yang diduga merupakan sisa perang agar dapat ditangani sesuai prosedur yang berlaku.
Dengan ditutupnya Operasi SAR, fokus penanganan kini diarahkan pada penyelesaian proses identifikasi korban, penyidikan penyebab ledakan, serta pemulihan kondisi sosial dan psikologis masyarakat terdampak di Kompleks Perikanan Biak.