View AllNews

Nasional

Hukum

Latest News

03/05/26

Mobil Modifikasi BBM Terbakar di Depan Mapolda, Polda Papua Gerak Cepat Padamkan Api



Jayapura – Personel Polda Papua bergerak cepat menangani kebakaran satu unit mobil Toyota Avanza berwarna hitam bernomor polisi PA 1537 AW yang terjadi di Jalan Sam Ratulangi, tepat di depan Mapolda Papua lama, Kota Jayapura, Minggu (03/05/2026) sekitar pukul 09.00 WIT.


Kendaraan tersebut terbakar hebat hingga menghanguskan sebagian besar badan mobil dan menyisakan rangka. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, mobil diketahui telah dimodifikasi pada tangki bahan bakar minyak (BBM), yang diduga kuat menjadi pemicu terjadinya kebakaran.


Menurut keterangan saksi di lokasi, pengemudi kendaraan sempat keluar dari mobil saat api mulai membesar, kemudian melarikan diri ke arah pusat Kota Jayapura. Pengemudi tersebut diketahui mengenakan kaos berwarna hijau dan celana pendek.


Melihat kejadian tersebut, personel Polda Papua yang berada di sekitar lokasi langsung bertindak cepat dengan mengerahkan dua kendaraan Armored Water Cannon (AWC) untuk memadamkan api, sehingga kebakaran tidak meluas dan tidak membahayakan masyarakat maupun pengguna jalan lainnya.


Selain pemadaman, petugas juga melakukan pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas guna mencegah kemacetan di sekitar lokasi kejadian. Setelah api berhasil dipadamkan, bangkai kendaraan kemudian dievakuasi menggunakan alat berat untuk membersihkan badan jalan.


Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, S.I.K., M.K.P., mengatakan bahwa respons cepat personel di lapangan merupakan bentuk kesiapsiagaan Polri dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat.


“Begitu melihat kejadian, personel kami langsung bergerak cepat menggunakan AWC untuk memadamkan api agar tidak meluas dan situasi tetap aman serta kondusif,” ucap Kabid Humas.


Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan modifikasi tangki BBM pada kendaraan maupun melakukan pembelian BBM menggunakan tangki yang tidak sesuai standar.


“Modifikasi tangki BBM sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan kebakaran. Kami mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan praktik tersebut demi keselamatan bersama,” tegasnya.


Dalam peristiwa tersebut tidak terdapat korban jiwa. Saat ini, kasus masih dalam penanganan aparat Kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut. 


Refleksi Hari Pers Sedunia: Integritas Jurnalisme di Tengah Riuh “Si Paling Wartawan”

 



Hari Kebebasan Pers Sedunia yang diperingati setiap 3 Mei semestinya menjadi momentum refleksi bersama. Namun, di tengah peringatan itu, muncul ironi yang kian sulit diabaikan, yakni fenomena “si paling wartawan”, mereka yang merasa paling paham, paling benar, dan paling layak menyandang identitas jurnalis, tanpa benar-benar memahami esensi profesi ini.


Hari ini, mengaku sebagai wartawan terasa begitu mudah. Cukup dengan gawai, akun media sosial, dan keberanian menyebarkan informasi, legitimasi seolah terbentuk dengan sendirinya. Verifikasi dianggap tidak penting, konfirmasi dinilai membuang waktu, dan etika dipersepsikan sebagai penghambat. Yang dikejar bukan lagi kebenaran, melainkan kecepatan dan sensasi.


Padahal, jurnalisme bukan pekerjaan serampangan. Ia adalah profesi yang dibangun di atas disiplin, integritas, dan tanggung jawab publik. Wartawan bekerja dengan standar, bukan sekadar keberanian berbicara. Ia terikat pada Kode Etik Jurnalistik, bukan pada logika viralitas.


Pendiri Kompas, Jakob Oetama, pernah menegaskan, “Pers bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi memberi makna. Di situlah tanggung jawab moralnya.” Pernyataan ini menegaskan bahwa jurnalisme tidak berhenti pada penyampaian informasi, melainkan pada kedalaman pemahaman dan tanggung jawab etis.


Namun realitas hari ini justru menunjukkan arah sebaliknya. Sebagian pihak tampil seolah paling memahami kebebasan pers, tetapi praktiknya jauh dari nilai-nilai jurnalistik. Menulis tanpa konfirmasi, menyajikan informasi tanpa konteks, bahkan menghakimi tanpa dasar yang memadai. Kebebasan dipelintir menjadi kebebasan tanpa batas.


Tokoh pers Atmakusumah Astraatmadja pernah mengingatkan, “Kebebasan pers tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu diikuti tanggung jawab dan kesadaran etika.” Tanpa itu, yang lahir bukan kebebasan, melainkan kekacauan informasi yang merusak ruang publik.


Fenomena “si paling wartawan” pada akhirnya bukan sekadar persoalan identitas, melainkan krisis kualitas. Ketika semua orang merasa paling tahu, ruang untuk belajar justru tertutup. Padahal, jurnalisme menuntut kerendahan hati intelektual, kesadaran bahwa kebenaran harus diuji, bukan diklaim.


Pendiri Tempo, Goenawan Mohamad, pernah menyatakan, “Jurnalisme bukan sekadar memberitakan apa yang terjadi, tetapi memahami apa yang sebenarnya terjadi.” Pemahaman inilah yang kian tergerus oleh budaya instan dan obsesi menjadi yang paling cepat.


Dalam nada yang lebih tegas, Rosihan Anwar mengingatkan, “Wartawan itu harus cerdas, jujur, dan berani. Tanpa itu, ia hanya menjadi penyampai kabar, bukan penjaga kebenaran.” Kutipan ini menjadi garis pembeda antara jurnalisme sebagai profesi dan sekadar aktivitas menyebarkan informasi.


Hari ini, tantangan terbesar pers bukan hanya disrupsi teknologi, tetapi degradasi etika. Siapa pun bisa menulis, tetapi tidak semua mampu mempertanggungjawabkan tulisannya. Di situlah letak pembeda yang sesungguhnya.


Kebebasan pers bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling vokal atau paling cepat. Ia adalah amanah untuk menjaga kualitas informasi, merawat kepercayaan publik, dan memastikan bahwa kebenaran tetap menjadi fondasi utama.


Maka, pada Hari Kebebasan Pers Sedunia ini, yang perlu ditegaskan bukan sekadar kebebasan, melainkan kualitas. Bukan sekadar hak, tetapi tanggung jawab. Bukan siapa yang paling mengaku wartawan, melainkan siapa yang benar-benar bekerja sebagai wartawan.


Sebab pada akhirnya, jurnalisme tidak diukur dari klaim, melainkan dari integritas. Dan di tengah riuhnya “si paling wartawan”, justru di situlah nilai sejati profesi ini sedang diuji.



Oleh: Ridwan Darise, Ketua Umum Perwakum

Penulis adalah Ketua Umum Persatuan Wartawan Imigrasi dan Hukum (Perwakum)

Pererat Silaturahmi, Babinsa Kebonsari Bantu Pasang Lantai Masjid An-Najiyah



Lumajang – Wujud nyata kepedulian serta upaya mempererat silaturahmi dengan masyarakat terus dilakukan oleh aparat kewilayahan, Babinsa Kebonsari Koramil 0821-19/Sumbersuko Serda Agus Waskito yang turut membantu kegiatan pemasangan lantai masjid sekaligus memberikan sarana dukungan berupa Al-Qur’an di Masjid An-Najiyah, Dusun Curah Jero, Desa Kebonsari, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Minggu (3/5/2026).


Kegiatan tersebut dilakukan bersama warga setempat sebagai bentuk gotong royong dalam menyelesaikan pembangunan dan perbaikan sarana ibadah. Babinsa hadir langsung membantu proses pemasangan lantai masjid, mulai dari pengangkutan material hingga penataan keramik agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar dan hasilnya lebih rapi.


Saat dikonfirmasi Serda Agus Waskito mengatakan bahwa keterlibatan Babinsa dalam kegiatan sosial kemasyarakatan merupakan bagian dari tugas pembinaan teritorial, sekaligus bentuk kepedulian terhadap fasilitas ibadah yang digunakan masyarakat.


“Kegiatan ini tidak hanya membantu percepatan pembangunan masjid, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat hubungan silaturahmi antara TNI dengan masyarakat. Masjid merupakan tempat ibadah yang harus kita jaga bersama, sehingga sudah sepatutnya kita saling membantu,” ujar dia.


Selain membantu pemasangan lantai masjid, Babinsa juga menyerahkan sarana dukungan berupa Al-Qur’an kepada pengurus Masjid An-Najiyah. Bantuan tersebut diharapkan dapat menambah fasilitas ibadah dan menunjang kegiatan keagamaan masyarakat, seperti tadarus, pengajian, serta pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak.


Sementara itu, Ketua Takmir Masjid An-Najiyah, Muhammad Ismail, menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian Babinsa yang telah hadir membantu pembangunan masjid sekaligus memberikan dukungan Al-Qur’an.


“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Babinsa yang sudah ikut membantu pemasangan lantai masjid. Bantuan Al-Qur’an ini juga sangat bermanfaat bagi jamaah, terutama untuk kegiatan mengaji dan pembelajaran anak-anak di masjid,” ungkapnya.


Ia menambahkan bahwa kehadiran Babinsa di tengah masyarakat menjadi motivasi tersendiri bagi warga untuk terus menjaga semangat gotong royong serta mempererat kebersamaan dalam membangun sarana ibadah.


Melalui kegiatan tersebut, diharapkan pembangunan Masjid An-Najiyah dapat segera rampung dan memberikan kenyamanan bagi jamaah dalam melaksanakan ibadah. Selain itu, sinergi antara Babinsa dan masyarakat di Desa Kebonsari semakin kuat, sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan kondusif dalam kehidupan bermasyarakat. (Pendim0821)

Pendampingan Babinsa Jadi Penyemangat Petani, Lahan Padi 1 Ha Mulai Diolah



Lumajang – Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional, Babinsa Pundungsari Koramil 0821-18/Tempursari Serka Fery Dian Prasetiyono melaksanakan kegiatan pendampingan pengolahan lahan padi di lahan sawah seluas 1 hektare milik warga bernama Jarwo, yang berada di Dusun Krajan, Desa Pundungsari, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Minggu (3/5/2026).


Kegiatan pendampingan tersebut dilakukan dengan terjun langsung ke area persawahan bersama petani, mulai dari proses persiapan lahan hingga pengecekan kondisi tanah yang akan digunakan untuk masa tanam padi. Langkah tersebut bertujuan untuk memastikan pengolahan lahan berjalan optimal agar hasil produksi pertanian dapat meningkat.


Serka Fery Dian Prasetiyono mengatakan bahwa pendampingan kepada petani merupakan bagian dari tugas Babinsa dalam mendukung ketahanan pangan wilayah serta mendorong semangat petani agar tetap produktif dalam mengelola lahan pertanian.


“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian TNI melalui Babinsa untuk membantu petani agar lebih semangat dan memastikan proses pengolahan lahan berjalan sesuai tahapan, sehingga dapat mendukung hasil panen yang maksimal,” ujar Serka Fery.


Sementara itu, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sari Tani I, Arifin, menyampaikan bahwa pendampingan yang dilakukan Babinsa merupakan bentuk sinergi yang baik antara TNI dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan pertanian sebagai sektor penting penopang ekonomi warga desa.


"Melalui kegiatan pendampingan ini, diharapkan para petani di Desa Pundungsari semakin termotivasi untuk meningkatkan produktivitas pertanian serta mampu menjaga stabilitas pangan di wilayah," pungkasnya.


Kegiatan tersebut juga menjadi wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat yang terus terjalin erat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, khususnya di bidang pertanian. (Pendim0821)

Duduk Bersama di Tanah Desa, Menyulam Cerita yang Tak Terlupakan



MALINAU, Kalimantan Utara – Di balik padatnya pekerjaan pembangunan dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-128 Kodim 0910/Malinau di Desa Luso, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau, tersimpan momen sederhana yang justru paling membekas di hati, Minggu (03/5/2026).


Bukan tentang megahnya bangunan yang sedang dikerjakan, melainkan tentang kebersamaan yang tumbuh hangat di sela pengabdian. Tentang nasi sederhana yang disantap bersama, tentang tawa yang pecah tanpa jarak, dan tentang rasa kekeluargaan yang hadir begitu tulus antara prajurit TNI dan masyarakat Desa Luso.


Sejak pagi personel Satgas TMMD berjibaku dengan pekerjaan fisik di lapangan. Namun saat waktu istirahat tiba, mereka duduk bersila bersama warga, menikmati hidangan yang disiapkan oleh ibu-ibu desa. Di bawah rindangnya pepohonan dan di sudut bangunan sederhana, mereka makan bersama tanpa sekat—hanya ada kehangatan, cerita, dan rasa syukur yang mengalir begitu saja.


Bagi para prajurit, hidangan itu bukan sekadar pelepas lelah, tetapi menjadi simbol perhatian dan dukungan warga. Sementara bagi masyarakat, kehadiran TNI menghadirkan pembangunan sekaligus rasa dekat yang menenangkan hati.


Salah satu personel Satgas TMMD, Peltu Fandi, mengungkapkan bahwa momen sederhana seperti itulah yang justru menjadi kenangan paling berharga selama menjalankan tugas.


“Kadang yang paling berkesan bukan pekerjaan besar yang kami lakukan, tetapi justru momen sederhana seperti makan bersama warga. Di situ kami merasa benar-benar diterima dan dianggap keluarga. Itu yang membuat hari-hari di TMMD menjadi sangat berharga dan tak terlupakan,” ungkapnya.


Hal senada disampaikan Supriyadi, salah satu warga Desa Luso, yang merasakan langsung hangatnya kebersamaan bersama personel Satgas TMMD.


“Kami sangat senang dengan kehadiran TMMD di Desa Luso ini. Bapak-bapak TNI tidak hanya datang untuk membangun fasilitas desa, tetapi juga benar-benar membaur dengan masyarakat. Kami bisa duduk bersama, makan bersama, dan bercanda tanpa ada sekat. Rasanya seperti keluarga sendiri. Kehadiran mereka membawa semangat baru dan membuat kami merasa diperhatikan,” ujarnya.


Di tempat terpisah, Pasiter Kodim 0910/Malinau Kapten Arm Juju Adi Pracoyo menegaskan bahwa nilai utama TMMD tidak hanya terletak pada selesainya pembangunan fisik, tetapi juga pada hubungan manusia yang tumbuh selama proses itu berlangsung.


“Pembangunan fisik memang penting, tetapi yang lebih berharga adalah hubungan yang terjalin antara personel Satgas dan masyarakat. Dari kebersamaan itulah lahir kepercayaan, semangat gotong royong, dan kenangan yang akan selalu diingat,” jelasnya.


Melalui TMMD Ke-128, Kodim 0910/Malinau tidak hanya membangun fasilitas desa, tetapi juga menghadirkan cerita, kehangatan, dan kenangan indah yang akan terus hidup dalam ingatan masyarakat Desa Luso.


Sebab terkadang, hal yang paling sederhana justru menjadi cerita yang paling sulit dilupakan.


(Pendim 0910)

Kebersamaan yang Humanis, Satgas TMMD dan Warga Desa Luso Menyatu dalam Kehangatan



MALINAU, Kalimantan Utara – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-128 Kodim 0910/Malinau di Desa Luso, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau, tidak hanya menghadirkan pembangunan fisik, tetapi juga menumbuhkan kebersamaan yang begitu hangat dan humanis antara personel Satgas TMMD dengan masyarakat setempat, Minggu (03/5/2026).


Di sela-sela pelaksanaan pekerjaan pembangunan, suasana akrab terlihat saat personel Satgas TMMD berkumpul bersama warga untuk menikmati waktu istirahat dan makan bersama. Tidak ada jarak antara prajurit TNI dan masyarakat, semuanya bercengkerama dengan penuh kekeluargaan, canda, dan senyum yang tulus.


Kehangatan itu menjadi gambaran nyata bahwa TMMD bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur, tetapi juga tentang membangun hubungan emosional dan kedekatan sosial antara TNI dan rakyat.


Salah satu personel Satgas TMMD Ke-128 Kodim 0910/Malinau, Kopka Raizal, mengungkapkan bahwa kebersamaan yang terjalin bersama warga menjadi penyemangat tersendiri dalam menjalankan tugas di lapangan.


“Melalui TMMD ini, kami tidak hanya datang untuk membangun fasilitas desa, tetapi juga untuk membangun hubungan yang erat dengan masyarakat. Saat bisa bekerja bersama, makan bersama, dan bercanda bersama warga, kami merasa seperti keluarga sendiri. Kebersamaan inilah yang menjadi semangat kami dalam menjalankan tugas pengabdian di Desa Luso,” ungkapnya.


Salah satu warga Desa Luso, Ibu Maya (48), juga mengaku sangat senang dengan kehadiran Satgas TMMD di desa mereka. Menurutnya, para personel TNI tidak hanya bekerja membangun fasilitas desa, tetapi juga mampu membaur dan menjalin kedekatan dengan masyarakat.


“Bapak-bapak TNI sangat ramah dan dekat dengan warga. Kami merasa seperti keluarga sendiri. Ini yang membuat kami senang dan semakin semangat ikut membantu kegiatan TMMD,” ujarnya.


Sementara itu, di tempat terpisah, Pasiter Kodim 0910/Malinau Kapten Arm Juju Adi Pracoyo menyampaikan bahwa keberhasilan program TMMD tidak hanya dilihat dari selesainya pembangunan fisik, tetapi juga dari tumbuhnya kedekatan dan rasa kekeluargaan antara TNI dan masyarakat.


“TMMD adalah wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Ketika personel Satgas dan warga bisa bekerja bersama, saling membantu, bahkan berbagi dalam suasana sederhana, itulah keberhasilan yang sesungguhnya. Kebersamaan dan hubungan yang humanis menjadi kekuatan utama dalam setiap pelaksanaan TMMD,” ujarnya.


Menurutnya, suasana yang penuh kekeluargaan tersebut membuat seluruh pekerjaan terasa lebih ringan karena dilakukan dengan rasa saling memiliki dan saling mendukung.


Kebersamaan yang terjalin di Desa Luso menjadi bukti bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari hasil fisik, tetapi juga dari hubungan baik yang tumbuh di tengah masyarakat.


Melalui TMMD Ke-128, Kodim 0910/Malinau menunjukkan bahwa pendekatan humanis dan kebersamaan adalah fondasi penting dalam membangun desa serta memperkuat kemanunggalan TNI bersama rakyat.


(Pendim0910)

Hidangan dari Hati, Dukungan Tulus Warga untuk Prajurit TMMD


MALINAU, Kalimantan Utara – Kehangatan kebersamaan dalam pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-128 Kodim 0910/Malinau tidak hanya terlihat dari kegiatan pembangunan fisik, tetapi juga dari perhatian tulus warga Desa Luso, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau.


Salah satu bentuk kepedulian itu datang dari para ibu-ibu warga Desa Luso yang dengan penuh semangat menyiapkan hidangan makan siang bagi personel Satgas TMMD yang setiap hari bekerja di lapangan, Minggu (03/5/2026).


Di sela kesibukan mereka sebagai ibu rumah tangga, para ibu dengan sukarela memasak berbagai menu sederhana namun penuh makna. Hidangan tersebut menjadi penyemangat tersendiri bagi anggota Satgas TMMD yang sejak pagi melaksanakan berbagai pekerjaan pembangunan di desa.


Suasana penuh keakraban terlihat saat personel TNI bersama warga menikmati makanan yang telah disiapkan. Tidak ada sekat, semua duduk bersama dalam nuansa kekeluargaan yang hangat, mencerminkan eratnya hubungan antara TNI dan masyarakat.


Pasiter Kodim 0910/Malinau Kapten Arm Juju Adi Pracoyo menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan yang diberikan warga, khususnya para ibu-ibu Desa Luso.


“Ini bukan hanya soal makanan, tetapi bentuk ketulusan dan dukungan masyarakat kepada kami. Kehadiran ibu-ibu yang menyiapkan hidangan ini menjadi penyemangat besar bagi personel Satgas dalam menjalankan tugas,” ujarnya.


Sementara itu, Ibu Nengsi (53), salah satu warga Desa Luso, mengaku senang dapat ikut berpartisipasi dalam mendukung kegiatan TMMD melalui hal sederhana seperti menyiapkan makanan untuk anggota Satgas.


“Kami sangat senang dan bersyukur bapak-bapak TNI hadir di desa kami. Mereka bekerja keras membantu membangun desa, jadi kami juga ingin ikut membantu semampu kami, salah satunya dengan menyiapkan makanan. Ini bentuk rasa terima kasih kami,” ungkapnya.


Menurutnya, kehadiran program TMMD membawa manfaat besar bagi masyarakat Desa Luso, baik dari sisi pembangunan maupun kedekatan antara warga dengan TNI yang semakin erat.


Warga pun mengaku kehadiran Satgas TMMD memberikan semangat baru bagi desa mereka. Bagi mereka, kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan program TMMD.


Melalui hidangan sederhana yang disajikan dengan penuh keikhlasan, ibu-ibu Desa Luso menunjukkan bahwa dukungan moral dan kebersamaan sering kali menjadi kekuatan terbesar dalam setiap pengabdian.


(Pendim0910)

Bukan Tentang Siapa yang Kuat, Tapi Siapa yang Mau Bergotong Royong


MALINAU, Kalimantan Utara – Semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi pemandangan utama dalam pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-128 Tahun Anggaran 2026 wilayah Kodim 0910/Malinau di Desa Luso, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau, Minggu (03/5/2026).


Melalui kegiatan karya bakti, personel Satgas TMMD bersama masyarakat bahu-membahu melaksanakan pembersihan dan pembenahan fasilitas umum di Desa Luso yang menjadi sasaran fisik program TMMD. Kegiatan ini dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih tertata, nyaman, dan layak dimanfaatkan oleh masyarakat.


Tidak hanya mengandalkan tenaga, tetapi juga kekompakan dan rasa kebersamaan yang menjadi kekuatan utama dalam setiap pekerjaan di lapangan. Terlihat para personel TNI bersama warga bekerja kompak membersihkan area sekitar serta melakukan pembongkaran pada bagian bangunan lama sebagai tahap awal renovasi fasilitas umum.


Di tengah cuaca yang cukup terik, semangat mereka tetap menyala demi mewujudkan pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat. Kebersamaan yang terjalin selama proses karya bakti menjadi bukti nyata bahwa pembangunan desa dapat berjalan lebih baik jika dilakukan secara bersama-sama.


Pasiter Kodim 0910/Malinau Kapten Arm Juju Adi Pracoyo selaku koordinator lapangan menyampaikan bahwa karya bakti ini bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan juga menjadi wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.


“TMMD bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi juga membangun kebersamaan, kepedulian, dan semangat gotong royong. Bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang mau bekerja bersama demi kepentingan masyarakat,” ujarnya.


Menurutnya, keterlibatan aktif masyarakat menjadi energi tersendiri bagi Satgas TMMD dalam menyelesaikan seluruh sasaran program secara maksimal dan tepat waktu.


Warga Desa Luso pun menyambut baik kegiatan tersebut. Mereka merasa senang karena pembangunan yang dilakukan tidak hanya memberikan manfaat langsung, tetapi juga mempererat hubungan kekeluargaan antara masyarakat dengan personel TNI.


Program TMMD Ke-128 Kodim 0910/Malinau sendiri terus berjalan dengan berbagai sasaran pembangunan fisik maupun nonfisik sebagai upaya percepatan pembangunan desa serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah pedalaman.


Melalui karya bakti ini, TMMD kembali membuktikan bahwa kekuatan terbesar bukan terletak pada alat atau tenaga semata, tetapi pada semangat gotong royong yang tumbuh dari hati yang tulus untuk membangun bersama.


(Pendim0910)